Patung Macan Putih Desa Balongjeruk Viral, Netizen Pertanyakan Transparansi Anggaran

featured-image

istimewa

KALTIMWARA.COM - KEDIRI - Pembangunan patung Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, memicu kontroversi di media sosial. Proyek yang dibangun di atas lahan bekas penebangan pohon beringin ikonik tersebut menuai kritik tajam karena bentuk fisik patung dinilai tidak proporsional dan jauh dari kesan gagah yang menjadi ciri khas simbol wilayah Kediri.

 

Langkah Pemerintah Desa Balongjeruk untuk mengubah wajah kawasan tersebut dimulai dengan meratakan pohon beringin besar guna menyediakan ruang bagi monumen baru. Namun, setelah pembangunan rampung, hasil pengerjaan patung Macan Putih tersebut justru dianggap gagal memenuhi standar estetika publik. Visual wajah macan yang tampak lucu menjadi alasan utama patung ini viral dan mendapat ejekan dari netizen.

 

Di berbagai platform media sosial, publik secara terbuka mempertanyakan rincian anggaran yang digunakan untuk proyek tersebut. Munculnya narasi "tebak anggaran" mencerminkan ketidakpuasan masyarakat terhadap kualitas fisik bangunan yang dianggap tidak sebanding dengan biaya yang kemungkinan dikeluarkan. Spekulasi mengenai lemahnya pengawasan dalam pengerjaan proyek pun terus bergulir di kolom komentar.

 

Ketidakpuasan ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat setempat yang tinggal di sekitar lokasi pembangunan. Warga merasa kehilangan pohon beringin yang selama ini menjadi peneduh alami, hanya untuk digantikan oleh patung yang secara artistik tidak merepresentasikan kegagahan "Macan Putih" sebagaimana yang selama ini dibanggakan oleh masyarakat Kediri, termasuk pada identitas klub Persik Kediri.

 

Reporter Dimas Chandra Permana dalam laporannya pada Jumat (26/12) menyoroti kebingungan masyarakat terkait desain tersebut. Dimas menuliskan, "Bukan karena patungnya estetik, melainkan karena wujudnya yang dinilai jauh dari kata mirip untuk sebuah macan. Harusnya tampilannya sangar dan menyeramkan. Jangankan di media sosial, di dunia nyata pun sebagian warga sekitar kebingungan."

 

Lebih lanjut, Dimas Chandra Permana menjelaskan bahwa di Kediri, keberadaan macan putih memiliki nilai legenda yang kuat. "Di Kediri, ada klub namanya Persik Kediri yang pernah merajai Liga Indonesia. Julukannya begitu seram, si 'Macan Putih'. Makanya tak heran, setiap wilayah di Kediri banyak berdiri patung-patung yang menyerupai macan putih," tulisnya dalam berita yang dirilis di Disway.

 

Kritik netizen pun terus berkembang menjadi isu transparansi publik. Banyak pihak menyayangkan jika dana pembangunan desa dialokasikan untuk karya seni yang kualitasnya dianggap kurang mumpuni. Hal ini memicu desakan agar pihak terkait memberikan penjelasan mengenai proses pemilihan vendor dan besaran dana yang dihabiskan untuk proyek monumen di persimpangan jalan desa tersebut.

 

Hingga saat ini, patung Macan Putih di Balongjeruk tersebut masih menjadi objek diskusi hangat yang merugikan citra pembangunan desa. Fenomena ini menekankan pentingnya pelibatan tenaga profesional dalam setiap pembangunan ikon daerah agar hasil akhir tidak hanya sekadar formalitas bangunan, tetapi juga memiliki nilai estetika dan filosofis yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. (kw/ass/ecy)