Darurat lapangan kerja: 2,7 juta warga Indonesia putus asa cari kerja, sarjana ikut terhimpit
Warga antri lowongan kerja
KALTIMWARA.COM - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan peringatan keras mengenai kondisi pasar kerja Indonesia yang kini berada dalam fase darurat. Fenomena gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus berlanjut di berbagai sektor industri telah menciptakan tekanan psikologis dan ekonomi yang berat bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang baru saja menyelesaikan pendidikan tinggi.
Masalah utama yang disoroti bukan sekadar ketiadaan lowongan, melainkan ketimpangan antara jumlah lulusan perguruan tinggi dengan ketersediaan lapangan kerja formal yang berkualitas. Kondisi ini memaksa banyak sarjana terjebak dalam sektor informal dengan upah rendah atau, dalam skenario terburuk, berhenti mencari kerja karena merasa kehilangan harapan.
Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Nawawi, mengungkapkan bahwa situasi ini telah melahirkan kelompok pengangguran baru yang disebut sebagai "penganggur putus asa" (discouraged workers). Mereka adalah orang-orang yang memiliki kualifikasi pendidikan, namun memilih berhenti berkompetisi di pasar kerja karena berkali-kali menghadapi kegagalan dan penolakan.
Dalam analisisnya, Nawawi menekankan bahwa tren PHK yang masif bukan lagi sekadar isu sementara, melainkan ancaman struktural terhadap stabilitas ekonomi nasional. "Kondisi ketenagakerjaan kita saat ini memang sedang tidak baik-baik saja, terutama dengan adanya tren PHK yang terus meningkat di berbagai sektor," ujar Nawawi dalam keterangannya.
Keresahan kian memuncak ketika data menunjukkan bahwa sektor manufaktur, yang selama ini menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja, terus mengalami kontraksi. Akibatnya, daya serap terhadap tenaga kerja terdidik menyusut tajam, meninggalkan para lulusan baru dalam ketidakpastian tanpa jaring pengaman sosial yang memadai.
Nawawi menambahkan bahwa jika pemerintah tidak segera melakukan intervensi melalui kebijakan yang mampu menciptakan lapangan kerja berbasis nilai tambah, angka pengangguran terdidik akan terus membengkak. Situasi ini dikhawatirkan akan memicu pemborosan talenta nasional secara besar-besaran atau brain waste.
"Kita melihat adanya peningkatan jumlah penganggur yang merasa putus asa dalam mencari kerja, terutama di kalangan lulusan pendidikan tinggi atau sarjana," lanjut Nawawi menjelaskan dampak psikologis dari sempitnya peluang kerja formal saat ini.
Sebagai penutup, BRIN mendesak adanya sinergi antara dunia pendidikan dan kebijakan industri untuk memutus rantai pengangguran ini. Tanpa perbaikan fundamental, mimpi Indonesia untuk memetik bonus demografi justru berisiko berubah menjadi beban sosial yang berkepanjangan di masa depan.(kw/ecy)